Tuesday, December 9, 2008

Kimdonesia : Muallaf Remaja Dari Australia Cinta Indonesia


Mualaf bule cantik ini nama aslinya Kimberley warganegara Australia dan berdomisili di Queensland berumur 17 tahun dan pernah tinggal di Indonesia bersama orang tua yang menjadi expatriate PT. Gula Putih Mataram.

Kim atau nama panggilannya Kimi yang memiliki nama asli Kimerley menjadi mualaf pada bulan April 2008 yang lalu dan telah berganti nama menjadi Kamilah namun di komunitas youtube dikenal sebagai KimDonesia. Keceriaan Kimi dalam setiap videonya menjadi sebuah daya tarik tersendiri sehingga Kimi memiliki banyak teman diseluruh dunia khususnya dari Indonesia.

I miss Indonesia like craaazy. Beli tiket pesawat buat saya donk, biar bisa balik ke Indonesia lagi. Hahaha bercanda deh. Tapi... Kangen sama teman-teman disana.

Kimi atau Kamilah memiliki beberapa Blog antara lain di :
1) http://www.youtube.com/user/KimDonesia
2) http://myspace.com/chocoholic_kimmi
3) http://hellokimi.blogspot.com
4) http://profiles.friendster.com/kimiforsure

http://profiles.friendster.com/kimiforsure
"Terlalu sibuk jadi gw jarang bisa buka Friendster!! Maaf ya! Tapi gw lulus tgl 20, udah ga sabar."

Female, 17, Single
Interested In: Friends
Member Since: Oct 2006
Location: Bundaberg, Queensland, AU
Hometown: PT. Gula Putih Mataram, Lampung
Company: Sizzler Restaurant
Last Login: 2 days
helloKIMI's URL:
http://profiles.friendster.com/kimiforsure
"Proud to be Australian. Aku sering bikin video, banyak org di dunia ini suka lihat video2 nya. Kalau mau..."

=) Cewek Australia.
=) Stuck in the 70's.
=) Bisa berbahasa Indonesia.
=) Masih tinggal di Queensland (Australia Timur).
=) Suka nonton Sinetron Indonesia.
=) Pernah tinggal di PT. GPM, Lampung & pgn balik kesana lagi.
=) Kangen sm teman" yg ada di Indo.
=) Udah masuk agama Islam di bulan April 2008.
=) Masih di kelas 3 SMA. Lulus di November.
=) Mau kuliah taun depan utk menjadi guru B. Inggris.
=) Mau pindah ke PT. GPM lagi.
=) Hmm... Apa lagi?
=) Tidak ada Tuhan selain Allah.

Contact me:
Mau chatting? Add: kimi.mashimaro@hotmail.com

atau kim_jensen91@yahoo.com

Mau kirim e-mail? Kirim ke: kimjensen91@hiptop.com.au
Mau lihat Myspace saya? Add : www.myspace.com/chocoholic_kimmi
Mau baca blog saya? Lihat: http://hellokimi.blogspot.com

Who I Want to Meet:

Allah SWT.
Prophet Muhammad SAW.
Allah's messengers & angels.

And...


Sunday, August 3, 2008

Travel Warning : Indonesia, Dangerously Beautiful










MILLIONS SMILING PEOPLE
THOUSANDS BEAUTIFUL ISLANDS
HUNDRED CULTURES AND ETHNICS
ONE UNBELIEVABLE NATION

I N D O N E S I A

Tuesday, April 29, 2008

Bolehkah Kita Menuduh Malaysia Maling?




Assalamualaikum.wr. wb.

Pak Ustadz, dari yang saya tahu Malaysia tidak pernah mengklaim budaya Indonesia milik mereka. Di sana budaya Indonesia digunakan oleh orang-orang keturunan Indonesia sendiri, sama halnya budaya Cina di Indonesiayangdigunakan oleh etnis Cina.

Melayu di Malaysia, 90%-nya berasal dari kepulauan Indonesia. Penduduk Melayu asli hanya di Brunei, Kelantan dan Terengganu saja. Sebagai contoh Melaka dibuka oleh Parameswara dari Palembang. Sultan Johor, dan Selangor berketurunan Bugis. Sultan Perak berketurunan Aceh.

Orang-orang Minangkabau dari Sumatera, Indonesia sudah bermukim di Negeri Sembilan sejak abad ke-15. Pada abad ke-18 orang-orang Jawa dikirim oleh penjajah Belanda ke Malaya dan Borneo Utara untuk membuka hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Maksud daripada Suku Melayu di Malaysia adalah seluruh penduduk pribumi di dunia Melayu (Nusantara), di antaranya suku Aceh, Arab, Banjar, Batak, Bawean, Bugis, Cham, Jambi, Jawa, Minang dan lainnya.

Pertanyaan saya bagaimana pendapat Ustadz dan Pandangan Islam mengenai:
Pantaskah Malaysia disebut Maling?
Apa bedanya kawan saya (Warga negara Malaysia)yangberdarah Jawa-Minang dengan leluhurnya di Indonesia?
Adakah pihak asingyangturut campur memanaskan hubungan Indonesia-Malaysia?
Apakah Indonesia negara maling, teriak maling?

Manusia Biasa
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam pandangan kami, kalau kita berpikir lebih dalam dan lebih luas, tidak berpikir picik dan sempit, sebenarnya seluruh manusia ini di depan Allah SWT sama saja. Tidak ada yang lebih baik dan tidak ada yang lebih buruk, kecuali semua ditentukan hanya pada ketaqwaannya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)

Sementara mayoritas warga negara Malaysia dan Indonesia sama-sama menyembah Allah SWT, sama-sama mengaku bernabi kepada Muhammad SAW, sama-sama berlandaskan kitabullah dan sunnah rasul-Nya. Dan sama-sama mayoritas muslim.

Apalagi kedua negara itu sama-sama mengalami penjajahan oleh para kolonialis. Jadi keduanya sama-sama bernasib jeblok. Kenapa ketika keduanya merdeka, mengapa keduanya harus saling bermusuhan, saling caci dan saling ganyang?

Jadi dalam pandangan kami, idealnya memang tidak perlu ada Indonesia dan Malaysia yang berdiri sendiri-sendiri.

Jangan marah dan komentar dulu. Memang apa yang kami sebutkan ini sekilas dianggap tidak nasionalis, tidak mengerti sejarah, tidak tahu jasa perjuangan para faunding father dari masing-masing negara.

Namanya sekedar cetusan, boleh disetujui dan boleh tidak. Tapi yang jelas toh baik Malaysia dan Indonesia, keduanya punya banyak sekali kesamaan. Kedua rakyatnya sama-sama tinggal di suatu wilayah yang sama, punya dasar aqidah yang sama, bahkan punya ras dan etnis yang sama.

Ekstrimnya, kalau ternyata keduanya berdiri sendiri-sendiri, penyebabnya hanya satu, yaitu penjajahan. Ya, penjajahan telah membuat bangsa Indonesia dan Malaysia harus selalu hidup bertetangga dengan saling curiga.

Dahulu Malaysia dijajah Inggris dan Indonesia dijajah Belanda. Hanya karena dijajah oleh dua pihak yang berbeda, kemudian bangsa Melayu harus terpecah-pecah menjadi nation dengan pemahaman kebangsaan yang sempit.

Dan tanpa sadar apa sebabnya, nyatanya sedikit-sedikit hubungan kedua negara tegang. Kalau bukan pemerintahnya yang saling sindir, yang lebih sering justru rakyat dari kedua negara.

Seolah selalu ada bom waktu yang kapan pun siap meledak. Kemarin urusan sengketa perbatasan, sehinngga ada perebutan pulau Sipadan dan Ligitan. Tidak lama kemudian, urusan bajak membajak lagu daerah. Belum selesai masalah itu, muncul urusan TKI di Malaysia yang bikin tegang kedua pimpinan negara.

Ciri Semua Negara Bertetangga Yang Pernah Terjajah

Apa yang dialami oleh Malaysia dan Indonesia, kalau kita perhatikan, ternyata juga dialami oleh banyak negara Islam lainnya.

Mesir dan Sudan, dua negara yang bertetangga, selalu saja dirundung keributan yang sewaktu-waktu, tanpa ada angin tanpa ada hujan, tiba-tiba ribut tidak jelas ujung pangkalnya.

Yang menarik, keduanya negara dengan penduduk mayoritas muslim. Bahkan mereka hidup dari sungai Nil yang sama. Kok bisa-bisanya keduanya berantem kayak anak kecil.

Ternyata Iran dan Iraq juga mengalami kendalam yang sama. Meski keduanya bertetangga, perang Iran Iraq telah membuat keduanya menjadi negara lemah, miskin, korban perang jadi-jadian yang tidak pernah ketahuan dengan pasti, apa sesungguhnya yang membuat mereka harus perang.

Dan yang lebih aneh, ketika perang antar kedua negara itu akhirnya berhenti, juga semakin tidak jelas apa yang membuatnya berhenti.

Kembali ke Masa Pra Kolonialis

Dan munculnya ratusan negara yang mayoritas berpenduduk muslim, baik di wilayah Asia, Afrika bahkan Eropa, pada hakikatnya adalah sebuah kecelakaan sejarah.

Sebab ketika dahulu Rasulullah SAW membebaskan negeri-negeri itu, semua bergabung jadi satu wilayah kedaulatan. Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab telah membebaskan Romawi, Persia dan Mesir, ketiganya adalah imperium raksasa di zamannya. Dan semuanya akhirnya bergabung menjadi daulah Islamiyah yang satu, kokoh, besar, dan adidaya.

Ketika Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad menembus Spanyol dan mengIslamkan rakyatnya, maka secara otomatis negeri itu menjadi bagian dari khilafah Islamiyah yang besar.

Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih di tahun 1453 membebaskan Konstantinopel dengan pasukan yang sangat dahsyat, otomatis negeri itu menjadi bagian utuh dari khilafah Islamiyah. Bahkan kota itu menjadi ibukota peradaban Islam selama beratus tahun kemudian.

Sejarah dunia Islam adalah satu daulah yang besar, berdaulat, berkuasa dan mencakup seluruh negeri yang berpenduduk muslim.

Kolonialis Memecah Umat Islam Menjadi Nation Kecil Tak Berdaya

Saat Allah SWT mentaqdirkan umat Islam mengalami kemunduran, bentuknya adalah penajajah. Negeri Islam dipotong-potong ibarat kue dan dibagi-bagi sebagai jatah jajahan dari negara kecil-kecil di Eropa.

Eropa yang dulunya hanya wilayah sepi penuh rawa dan kotor, kemudian menjadi maju dan akhirnya malah menjajah negeri muslim yang sebelumnya merupakan adidaya dunia.

Keadaan kemudian berbalik 180 derajat. Para budak itu kemudian menjadi penguasa dunia. Sementara para penguasa dunia itu turun derajat jadi budak hina, yang bahkan tidak pernah menjadi pemiliki kekayaan negerinya sendiri.

Para kolonialis adalah pihak yang paling bertanggung-jawab dalam masalah ini.

Umat Islam Satu Agama Satu Negara

Idealnya umat Islam di seluruh dunia ini berada dalam satu negara, walau pun mungkin saja tetap ada otonomi daerah. Namun dengan keberadaan di bawah satu pimpinan tertinggi, umat Islam akan semaki kuat. Tidak ada lagi pihak-pihak yang akan menganggap umat Islam lemah seperti sekarang ini.

Bentuknya boleh republik, federasi, persemakmuran atau apa saja, terserah gimana ngaturnya. Tapi yang penting umat Islam jangan sampai dipecah berkeping-keping seperti sekarang ini.

Kami jadi teringat lantunan syi'ir indah yang pernah diajarkan sejak masa SMP oleh almarhum guru kami, Ustadz Rahmat Abdullah. Saat itu beliau mengajar kami bahasa Arab. Kami diminta menghafalkan bait-bait syi'ir yang indah, yang akhirnya kami ketahui merupakan bait karya Iqbal, penyair muslim Pakistan:

ياأخي في الهند أو في المغرب
أنا منك أنت مني أنت بي
لا تسل عن عنصري عن نسبي
إنه الإسلام أمي و أبي
إخوة نحن به مؤتلفون

Wahai saudaraku di India dan di Maghrib

Aku bagian dari dirimu, engkau bagian dari diriku

Jangan tanyakan anasirku, jangan tanyakan nasabku

Sesungguhnya Islam adalah ayah dan ibuku

Persaudaran, kami dengannya berta'alluf

Alangkah indahnya jika seluruh muslim di dunia bisa berta'alluf, menyatu, bersatu, saling bela, saling tolong dan tidak menganggap saudaranya yang ada di negeri lain, terutama di negeri tetangganya sebagai musuh yang harus dibenci.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Source : Eramuslim

Monday, April 7, 2008

Lessons on how to engage bloggers from Indonesia (Malaysian ministers please note)



While Malaysian ministers struggle to engage the blogger Indonesia’s Information Minister Muhamed Nuh is breezing effortless to yet another well received engagement with bloggers.
Pak Son, Nuh’s PA, earlier today SMS’s
Romi Satria Wahono saying the minister would like to meet bloggers for a dialogue. He wasn’t specific about the topic. It just looked like Pak Nuh just wanted an exchange of ideas with bloggers. Pak Nuh, some of you may recall, was the Indonesian Minister that opened Pesta Blogger 2007, told bloggers that Indonesia had freedom of expression and bloggers would not be censored, and declared October 27 National Bloggers Day.
Romi e-mailed the top bloggers about the meeting which would be held at 7pm this coming Monday (April 7) at the meeting room on the 7th Floor of Nuh’s Ministry.
So far among the prominent Indonesian bloggers that have responded are: Romi Satria Wahono,
Riyogata, Harry Sufehmi, Budi Putra, Muhammad Aulia Fahmi. Enda Nasution (going to Singapore) and Unspun sent apologies (off to see Cherry Blossoms and pretend to look attentive in a meeting in Tokyo, but would have loved to join in the dialogue).
What they’ll discuss (probably the antics of Presidential technology advisor
Roy “the Boy” Suryo - for rollicking satire see here) and whether anything comes out of the meeting remains to be seen.
What is clear so far is the exemplary way in which the Indonesian minister engages bloggers. Perhaps Pak Nuh should be sent to Malaysia to teach the neighbors Seberang a thing or two about how the government should engage bloggers?


Source : The Unspun